Belajar Mencintai Bahasa Indonesia dari “Xenoglosofilia”

Judul buku : Xenoglosofilia “Kenapa Harus Nginggris?”

Penulis : Ivan Lanin

Penerbit : Kompas

Tahun terbit : 2018

Jumlah halaman: 232 hlm


Memiliki bahasa ibu bahasa Indonesia bukan berarti kita paham betul bahasa kita sendiri.

Ivan Lanin

Buku yang menarik

“Xenoglosofilia” adalah alternatif bagi pembaca yang tertarik dengan bahasa indonesia namun bosan dengan buku literatur yang terkesan kaku dan begitu-begitu saja. buku ini memberikan pengalaman baru dalam belajar sekaligus mencintai bahasa indonesia.

Judulnya saja sudah bikin penasaran. Membuat pembaca yang memiliki tingkat keingintahuan tinggi (kepo) tertarik membuka kamus.

Bahasa Indonesia juga keren

sampul belakang “Xenoglosifilia”

Isi dari buku ini diambil dari tulisan-tulisan Uda Ivan (sapaan akrab penulis di jagat twitter) yang dimuat pada blognya. Secara umum isi buku terbagi menjadi tiga bagian: (1) Xenoglosofilia (2)Tanja (3)Mana Bentuk yang Tepat?

Pada bagian pertama dituliskan begitu banyak istilah dalam bahasa Indonesia yang seharusnya bisa menjadi padanan yang pas untuk istilah inggrisnya, namun kecenderungan dari kita sebagai penutur lebih suka menggunakan istilah aslinya.

Entah karena malas mencari padanannya, atau yang sering terjadi adalah kita lebih suka istilah aslinya hanya karena terkesan lebih keren. Mungkin bisa dibilang inferior orang yang menganggap “bill” lebih keren dari “bon”.

Memuat hal-hal remeh

isi buku yang bikin kepo

Kemudian pada bagian kedua pembaca disajikan serangkaian tanja (Tanya Jawab). Ingat tanja, ya, bukan tinja.

Tentu saja tanya jawabnya bukan soal kehidupan pribadi penulis, karena buku ini bukan QnA seperti di kanal para youtuber yang terkenal itu. Melainkan berisi pertanyaan-pertanyaan ringan semisal “mengapa pasta gigi dinamai odol?”. Ringan sekali, bukan?

Terakhir pada bagian tiga terdapat penjelasan terhadap kerancuan dari dua atau lebih istilah yang mirip, tetapi memiliki fungsi yang berbeda menurut kaidah bahasa. Misal yang paling simpel, “di mana” dan “dimana”. Yang satu memakai spasi, yang lainnya tidak.

Terkesan remeh-temeh, memang. Bahkan penulis sendiri bilang bahwa ia adalah seorang pedantis (terlalu peduli dengan atuaran formal dan remeh-temeh). Menurutnya kalau kita tidak mulai membiasakan, bagaimana bisa bahasa Indonesia berkembang.

Ragam percakapan akan tetap hidup

Seperti di sebut di awal, buku ini adalah jelmaan casual dari buku literatur bahasa Indonesia yang biasanya formal. Pembaca seperti mendapat kuliah umum dari penulis dalam suasana yang cukup santai. Bahkan pada bagian kedua pembaca seperti ngobrol langsung dengan penulis.

Benar kata penulis, ragam formal adalah pilihan utama untuk pembicaraan publik, tetapi ragam percakapan tetap akan hidup karena sifatnya yang membuat suasana lebih akrab. Jadi jangan khawatir, buku ini bukan polisi yang memberi kamu surat tilang ketika tak patuh aturan.

Ngomong-ngomong, pada blog ini juga banyak terdapat ragam percakapan, ya. Sengaja biar akrab. He-he.


Bagikan kepada kawan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!